Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
PARIS - Pengadilan Paris, Prancis menuntut Pangeran Sattam al-Saud yang berasal dari kerajaan Arab Saudi untuk menyerahkan hak asuh putrinya Aya kepada ibunya yang berasal dari Prancis Candice Cohen-Ahnine.
Pangeran Sattam al-Saud juga dituntut untuk memberikan tunjangan EUR10 ribu atau sekira Rp117 juta (Rp11.794 per EUR) per bulan.
Candice Cohen-Ahnine menuding selama tiga setengah tahun putrinya diculik dan disembunyikan di Istana Riyadh. Presiden Prancis Nicholas Sarkozy serta Kementerian Luar Negeri Prancis dikabarkan sempat turun tangan dalam menangani kasus ini.
Namun keputusan pengadilan Prancis itu tampaknya tidak memberikan efek penting bagi Pangeran Sattam al-Saud.
"Apa peduli Saya dengan Sarkozy? Jika perlu, Saya akan pergi dan bersembunyi di gunung dengan putri Saya," ujar Pangeran Sattam al-Saud seperti dikutip Telegraph, Rabu, (1/2/2012).
Candice Cohen-Ahnine dan Pangeran Sattam al-Saud bertemu 14 tahun lalu di London, semenjak saat itu mereka menjalin hubungan khusus. Lalu putri semata wayang mereka lahir pada Oktober 2008.
Hubungan mereka berakhir pada tahun 2006 ketika Pangeran Sattam al-Saud mengumumkan dirinya harus menikah dengan sepupunya sesuai dengan aturan kerajaan Arab Saudi. Pangeran Sattam sempat menawari Cohen-Ahnine untuk menjadi istri kedua namun ajakan itu ditolak sampai akhirnya mereka berpisah.
Cohen-Ahnine mengklaim putri semata wayangnya diculik ketika dia dan putrinya tengah berada di Arab Saudi pada tahun 2008. Insiden penculikan itu diakui Cohen-Ahnine terjadi di Istana Riyadh. Cohen-Ahnine yang juga berada ditempat itu berhasil kabur dan mencari perlindungan di Kedutaan Besar Prancis.
Upaya diplomatik yang tidak kunjung menunjukkan kemajuan membuat Cohen-Ahnine menerbitkan sebuah buku Give My Daugter Back. Buku ini menceritakan kisah penderitaannya sejak Oktober 2008.
"Keputusan pengadilan ini adalah kemenangan besar bagi Saya. Ini seperti pembenaran atas setiap kata-kata Saya," ujar Cohen-Ahnine.
Namun sikap keras justru ditunjukkan oleh Pangeran Sattam, dia membantah itu adalah sbeuah kasus penculikan. Pangeran Sattam mengatakan, putrinya Aya bebas untuk pergi kemana saja.
Pangeran Sattam mengatakan dia hanya akan mengirim pengacara ke Perancis untuk menolak putusan pengadilan, tidak putrinya.
"Perancis tidak punya hak untuk mengambil putri Saya. Dia adalah seorang warga Saudi dan seorang putri. Mereka tidak bisa mewajibkan seorang putri untuk meninggalkan negara ini," imbuhnya.(rhs)
http://international.okezone.com/rea...sus-penculikan
kelakuan pangeran ini gak beda sama kucing garong
Pangeran Sattam al-Saud juga dituntut untuk memberikan tunjangan EUR10 ribu atau sekira Rp117 juta (Rp11.794 per EUR) per bulan.
Candice Cohen-Ahnine menuding selama tiga setengah tahun putrinya diculik dan disembunyikan di Istana Riyadh. Presiden Prancis Nicholas Sarkozy serta Kementerian Luar Negeri Prancis dikabarkan sempat turun tangan dalam menangani kasus ini.
Namun keputusan pengadilan Prancis itu tampaknya tidak memberikan efek penting bagi Pangeran Sattam al-Saud.
"Apa peduli Saya dengan Sarkozy? Jika perlu, Saya akan pergi dan bersembunyi di gunung dengan putri Saya," ujar Pangeran Sattam al-Saud seperti dikutip Telegraph, Rabu, (1/2/2012).
Candice Cohen-Ahnine dan Pangeran Sattam al-Saud bertemu 14 tahun lalu di London, semenjak saat itu mereka menjalin hubungan khusus. Lalu putri semata wayang mereka lahir pada Oktober 2008.
Hubungan mereka berakhir pada tahun 2006 ketika Pangeran Sattam al-Saud mengumumkan dirinya harus menikah dengan sepupunya sesuai dengan aturan kerajaan Arab Saudi. Pangeran Sattam sempat menawari Cohen-Ahnine untuk menjadi istri kedua namun ajakan itu ditolak sampai akhirnya mereka berpisah.
Cohen-Ahnine mengklaim putri semata wayangnya diculik ketika dia dan putrinya tengah berada di Arab Saudi pada tahun 2008. Insiden penculikan itu diakui Cohen-Ahnine terjadi di Istana Riyadh. Cohen-Ahnine yang juga berada ditempat itu berhasil kabur dan mencari perlindungan di Kedutaan Besar Prancis.
Upaya diplomatik yang tidak kunjung menunjukkan kemajuan membuat Cohen-Ahnine menerbitkan sebuah buku Give My Daugter Back. Buku ini menceritakan kisah penderitaannya sejak Oktober 2008.
"Keputusan pengadilan ini adalah kemenangan besar bagi Saya. Ini seperti pembenaran atas setiap kata-kata Saya," ujar Cohen-Ahnine.
Namun sikap keras justru ditunjukkan oleh Pangeran Sattam, dia membantah itu adalah sbeuah kasus penculikan. Pangeran Sattam mengatakan, putrinya Aya bebas untuk pergi kemana saja.
Pangeran Sattam mengatakan dia hanya akan mengirim pengacara ke Perancis untuk menolak putusan pengadilan, tidak putrinya.
"Perancis tidak punya hak untuk mengambil putri Saya. Dia adalah seorang warga Saudi dan seorang putri. Mereka tidak bisa mewajibkan seorang putri untuk meninggalkan negara ini," imbuhnya.(rhs)
http://international.okezone.com/rea...sus-penculikan
kelakuan pangeran ini gak beda sama kucing garong
bebek.goreng 02 Feb, 2012
Mr. X 02 Feb, 2012
-
Source: http://ideguenews.blogspot.com/2012/02/pangeran-saudi-dituntut-kasus.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar