Berita dan Gosip Selebritis

Selasa, 22 Januari 2013

IIPAC KOMUNITAS YAHUDI DI INDONESIA

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
  Takut Dibantai, 5 Ribuan Yahudi Pilih Sembunyi
Perayaan kemerdekaan Israel di Puncak membuka keberadaan komunitas Yahudi di Indonesia. Selama ini komunitas ini melakukan acara secara sembunyi-sembunyi. Mereka hati-hati karena tidak ingin menjadi korban pembantaian.

Meski sembunyi-sembunyi, tapi ternyata komunitas ini memiliki sejumlah organisasi. Organisasi tersebut antara lain Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC).

IIPAC yang berdiri di Indonesia pada 21 Januari 2001 itulah yang menggelar perayaan kemerdekaan Israel di Puncak. LSM ini didirikan Benjamin Ketang, pria kelahiran Jember, Jatim.

IIPAC bertujuan melakukan kerjasama dengan lembaga Israel, Yahudi Internasional dan melindungi hak-hak warga Yahudi dan keturunan Yahudi di Indonesia serta memajukan kerjasama bisnis, investasi, IT dan pendidikan tinggi dengan universitas di seluruh dunia.

Salah satu gerakan yang dilakukan IIPAC, seperti yang tertulis dalam situsnya, adalah mendukung pecalonan presiden, para menteri, gubernur, bupati dengan pendanaan dari 10% dana Social Corporate Responsibility (CSR) dan hibah atau dana grant dari pendukung internasional.

Benjamin mengaku, saat ini anggota IIPAC sebanyak 4.850 orang. Mereka adalah keturunan Yahudi yang tersebar di Indonesia. Umumnya mereka berprofesi sebagai pengusaha, pekerja di perusahaan migas, dan dosen.

"Mereka bukan hanya warga negara Indonesia. Tapi ada yang dari Singapura dan AAS. Tapi mereka bekerja dan tinggal di Indonesia," jelas Benjamin.

Saat ini, di situs IIPAC juga tertulis, kantor pusat IIPAC beralamat di Jalan Imam Bonjol, Desa Krajan Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur.

Sekalipun anggota IIPAC seluruhnya merupakan keturunan Yahudi, tapi kegiatan IIPAC itu sendiri murni bisnis. Bukan kelompok peribadatan. Sebab sampai saat ini mereka masih takut melakukan ibadah secara terbuka.

Saat ini baru di Manado, umat Yahudi sedikit terbuka dalam beribadah. Di Manado dan sekitarnya, setidaknya ada dua bangunan khas Yahudi. Yakni, tempat ibadah atau yang biasa disebut sinagog dan menorah setinggi 62 kaki.

Sinagog berada di Tondano, Kabupaten Minahasa, sekitar 35 kilometer dari Manado. Sedangkan menorah terletak di atas bukit Gunung Klabat di Kabupaten Minahasa Utara, sekitar 20 kilometer dari Manado.

Sementara di daerah lain mereka melakukan peribadatan secara tertutup. Mereka hanya melakukan doa-doa saja setiap Sabat (Sabtu). Mereka biasanya hanya berdoa mulai jam 18.00 sampai selesai, di rumah masing-masing.

Bukan hanya ibadah yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Dalam kartu identitasnya pun agama yang mereka anut juga disembunyikan. Misalnya di KTP mereka menulis agama mereka Islam atau Kristen.

Benjamin sendiri menggunakan agama Islam dalam kartu identitasnya dengan nama Nur Hamid Ketang. Benjamin, yang merupakan jebolan Hebrew University of Jerusalem, beralasan, mereka sengaja menyembunyikan identitas maupun peribatadan lantaran takut dibantai.

"Saat ini kekerasan di Indonesia masih sering terjadi. Misalnya dalam kasus Ahmadiyah. Jadi kami sangat takut menjadi korban Holocaust (pembantaian Nazi terhadap Yahudi)," aku Benjamin.
Takut Dibantai, 5 Ribuan Yahudi Pilih Sembunyi

Selain dari kalangan pebisnis dan pendidik, juga ada keturunan Yahudi yang saat ini menjadi selebriti. Benjamin menyebut nama Ahmad Dhani, bos manajemen Republik Cinta.

"Saya pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan Dhani beberapa tahun lalu. Saat itu Dhani bertanya apakah benar kalau ibunya keturunan Yahudi. Setelah dia sebut nama ibunya, saya katakan benar ibunya adalah keturunan Yahudi," jelasnya.

Dalam pertemuan itu, Dhani menyebut kalau ibunya bernama Askelnadi. Mendengar nama itu, Benjamin lalu memastikan kalau ibunya keturunan Yahudi yang dalam bahasa Ibraninya bermarga Separd.

Marga Separd merupakan tokoh Yahudi yang disegani di Asia Tenggara. Setelah pertemuan itu Benjamin tidak pernah lagi bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan Dhani.

Dhani telah membantah dirinya merupakan Yahudi. Keluarga Dhani menganggap kabar yang mengaitkan mereka dengan Yahudi merupakan fitnah. "Disebutkan ibu saya, menikahi ayah saya karena butuh perlindungan. Karena ibu saya Yahudi. Kalau itu fitnah bisa kenakan pasal 310 dan pasal 311," kata Dhani.

Meski ada sekian banyak penganut Yahudi di Indonesia, namun menurut Benjamin di Indonesia hanya ada satu Rabbi. Dia adalah Rabbi Yaakov Baruch yang tinggal di Manado. Di ibukota Sulawesi Utara tersebut, setidaknya ada 500 orang pengikut Yahudi. Menurut Benjamin, Rabbi Yaakov Baruch, memimpin doa dalam perayaan HUT Israel di Puncak.

Namun Kepala Biro Infokom Komunitas Yahudi di Indonesia Irvan Grosman membantah Rabbi Yaakov ikut dalam acara tersebut. Yaakov Baruch berada di Manado sampai hari Minggu (17/5/2011). Ia menuding Benjamin telah memfitnah. Komunitas Yahudi Indonesia tidak mau bertanggung jawab atas gerakan yang digalang Benjamin cs.

Komuniyas Yahudi Indonesia, tegas Irvan, sama sekali tidak tahu menahu dengan penyelenggaraan perayaan kemerdekaan Israel. "Komunitas kami menghormati pemerintah dan rakyat Indonesia. Kami tidak pernah ada niatan untuk melukai hati bangsa dan tanah air ini," tegas Irvan.
detiknews.com





Music man 16 May, 2011


--
Source: http://krisnahomerecord.blogspot.com/2011/05/iipac-komunitas-yahudi-di-indonesia.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

1 komentar: