
Ada sepuluh isu utama yang dinilai menarik publik dan media yang dihasilkan dalam KTT ke-18 ASEAN. Isu-isu itu, antara lain, berkaitan dengan konektivitas ASEAN, ketahanan pangan dan energi, dan pengelolaan konflik dalam perselisihan antaranggota ASEAN. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam keterangan pers di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Minggu (8/5) pukul 18.20 WIB. KTT ke-18 ASEAN sendiri ditutup sore tadi.
Kesepuluh isu tersebut adalah, pertama, para pemimpin ASEAN menggarisbawahi tujuan untuk membangun konektivitas ASEAN harus diwujudkan. "Master plan yang berkaitan dengan ASEAN Connectivity semua sependapat untuk ditindaklanjuti, sehingga semua negara melakukan upaya, baik untuk membangun konektivitas di negaranya masing-masing maupun membangun konektivitas regional, atau ASEAN Connectivity," kata Presiden SBY.
Konektivitas ini dilakukan dengan membangun infrastruktur, transportasi, telekomunikasi, hingga people to people contact. SBY berharap dengan dibangunnya konektivitas ASEAN pada saatnya nanti bukan hanya akan menggerakkan ekonomi regional , mobilitas barang, jasa, dan manusia tetapi juga dapat mengurangi kesenjanganan antara negara-negara ASEAN.
Ketahanan energi dan pangan, lanjut SBY, menjadi poin berikutnya. "Para pemimpin ASEAN merasa bahwa pada tingkat dunia terdapat gejolak harga pangan dan minyak bumi dengan flabilitas yang tinggi, bahkan pada enam bulan terakhir terdapat kenaikan yang sistematis," SBY menjelaskan.
"Ini tentu memberikan dampak yang tidak baik bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan bahkan kenaikan harga pangan yang terus melambung tinggi termasuk harga minyak yang terimplikasi pada kenaikan harga pangan meningkatkan angka kemiskinan pada masyarakat dunia," SBY menambahkan.
Pemimpin ASEAN bersepakat untuk melakukan kerjasama regional menghadapi ancaman kecukupan pangan dan ketahanan energi. Khusus di bidang pangan, ASEAN sepakat untuk betul-betul bisa meningkatkan produksi dan produktivitas pangan dan membangun cadangan beras pada tingkat regional, mengembangkan investasi, termasuk kerjasama di bidang riset, pengembangan, dan inovasi.
"Kami juga sepakat untuk melanjutkan kerjasama ASEAN dengan mitra ASEAN, yaitu ASEAN+3, di dalam membangun cadangan pangan pada tingkat kawasan yang lebih luas," SBY melanjutkan.
Untuk ketahanan energi, para pemimpin ASEAN bersepakat untuk mengembangkan sumber energi yang lebih inovatif dan energi terbarukan dengan menisinergikan apa yang bisa dilakukan pada tingkat kawasan.
Isu yang ketiga adalah pengelolaan konflik dan resolusi konflik, utamanya yang sekarang ini menjadi perhatian publik, adalah perselisihan perbatasan Thailand dan Kamboja. "Pemimpin ASEAN memiliki sikap yang sama dan mendorong Thailand dan Kamboja untuk memilih solusi damai, mencegah eskalasi konflik, dan segera melakukan semua upaya untuk mencegah terjadinya kontak tembak diantara kedua militer," ujar Presiden SBY.
Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN telah melakukan berbagai upaya dalam menjembatani dan memfasilitasi dengan mengajukan sejumlah pikiran agar bisa dicapai satu solusi damai sesuai dengan semangat ASEAN, "Dengan demikian, perdamaian dapat tercipta dan cita-cita ASEAN untuk membangun keamanan politik dapat diwujudkan," Presiden menandaskan. seruu.com
Music man 09 May, 2011Konektivitas ini dilakukan dengan membangun infrastruktur, transportasi, telekomunikasi, hingga people to people contact. SBY berharap dengan dibangunnya konektivitas ASEAN pada saatnya nanti bukan hanya akan menggerakkan ekonomi regional , mobilitas barang, jasa, dan manusia tetapi juga dapat mengurangi kesenjanganan antara negara-negara ASEAN.
Ketahanan energi dan pangan, lanjut SBY, menjadi poin berikutnya. "Para pemimpin ASEAN merasa bahwa pada tingkat dunia terdapat gejolak harga pangan dan minyak bumi dengan flabilitas yang tinggi, bahkan pada enam bulan terakhir terdapat kenaikan yang sistematis," SBY menjelaskan.
"Ini tentu memberikan dampak yang tidak baik bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan bahkan kenaikan harga pangan yang terus melambung tinggi termasuk harga minyak yang terimplikasi pada kenaikan harga pangan meningkatkan angka kemiskinan pada masyarakat dunia," SBY menambahkan.
Pemimpin ASEAN bersepakat untuk melakukan kerjasama regional menghadapi ancaman kecukupan pangan dan ketahanan energi. Khusus di bidang pangan, ASEAN sepakat untuk betul-betul bisa meningkatkan produksi dan produktivitas pangan dan membangun cadangan beras pada tingkat regional, mengembangkan investasi, termasuk kerjasama di bidang riset, pengembangan, dan inovasi.
"Kami juga sepakat untuk melanjutkan kerjasama ASEAN dengan mitra ASEAN, yaitu ASEAN+3, di dalam membangun cadangan pangan pada tingkat kawasan yang lebih luas," SBY melanjutkan.
Untuk ketahanan energi, para pemimpin ASEAN bersepakat untuk mengembangkan sumber energi yang lebih inovatif dan energi terbarukan dengan menisinergikan apa yang bisa dilakukan pada tingkat kawasan.
Isu yang ketiga adalah pengelolaan konflik dan resolusi konflik, utamanya yang sekarang ini menjadi perhatian publik, adalah perselisihan perbatasan Thailand dan Kamboja. "Pemimpin ASEAN memiliki sikap yang sama dan mendorong Thailand dan Kamboja untuk memilih solusi damai, mencegah eskalasi konflik, dan segera melakukan semua upaya untuk mencegah terjadinya kontak tembak diantara kedua militer," ujar Presiden SBY.
Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN telah melakukan berbagai upaya dalam menjembatani dan memfasilitasi dengan mengajukan sejumlah pikiran agar bisa dicapai satu solusi damai sesuai dengan semangat ASEAN, "Dengan demikian, perdamaian dapat tercipta dan cita-cita ASEAN untuk membangun keamanan politik dapat diwujudkan," Presiden menandaskan. seruu.com
--
Source: http://krisnahomerecord.blogspot.com/2011/05/10-kesepakatan-ktt-asean-ke-18.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar